-->

Selasa, 11 Januari 2011

NDOLALAK RUKUN SIDO LANCAR, GRABAG, PURWOREJO: BERTAHAN PADA TRADISI

 




Berangkat dari niatan untuk melepas nadar, kelompok tari Ndolalak dari Purworejo yang bernama Rukun Sido Lancar berpentas di Pendhapa
Yudanegaran, Tembi Rumah Budaya. Pentas ini dilakukan Senin, 12 April 2010 mulai jam 19.00-23.00 WIB. Kelompok tari Ndolalak ini menampilkan 14 orang penari Ndolalak putrid mulai dari remaja hingga ibu-ibu. Kecuali menampilkan tarian Ndolalak kelompok ini juga menampilkan permainan atau musik Gejog Lesung. Permainan Gejok Lesung yang bertempat di depan Pendapa Yudanegaran dimainkan oleh kaum ibu yang umumnya telah berusia lanjut.
Menurut Sumirun Sudarmo Aji (45) selaku sesepuh dan sekretaris kelompok tari Ndolalak Rukun Sido Lancar yang beralamatkan di Dusun Kodran, Desa Sumberagung, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ini kelompok tari yang dipimpinnya telah berdiri sejak tahun 2004 dan telah berpentas di berbagai daerah khususnya Purworejo dan Yogyakarta. Pendirian kelompok tari ini berangkat dari rasa cintanya warga Kodran akan kesenian tradisional Jawa Purworejo yang telah populer, yakni Ndolalak. Bukan hanya itu. Kelompok ini juga membuat kegiatan kesenian lain berupa Macapat. Jika latihan tari Ndolalak dilakukan pada malam Kamis dan Minggu malam, maka latihan Macapat dilakukan pada hari Selasa (malam Rabu).
Sejauh pengamatan Sumirun Sudarmo Aji antusiasme generasi muda di daerahnya untuk memelihara kesenian tradisional Jawa semacam Ndolalak masih cukup tinggi. Hal ini tentu cukup membanggakan. Bahkan kegiatan Macapat yang diselenggarakan di Dusun Kodran atau Desa Sumberagung banyak diikuti oleh anak-anak remaja.
Pementasan Ndolalak di Pendapa Yudanegaran ini menampilkan beberapa jenis joged khas Ndolalak, yakni Joged Alusan, Joged Main-main, Joged Pakih Cincin, Joged Ikan Cucut, dan lain-lain yang salah satunya merupakan joged tunggal seorang penari dalam keadaan kesurupan. Format blocking dan penataan penari nyaris tidak berubah dari awal hingga akhir pertunjukan. Penari berbaris dalam dua lajur barisan yang masing-masing barisan terdiri atas 7 orang penari.
Iringan musik untuk pentas tari Ndolalak ini juga relatif sederhana, yakni sebuah jidhur (bedug kecil), 3 buah rebana (terbang), dan satu kendang. Lagu-lagu, nyanyian, atau tembang dilakukan oleh pengiring tari secara bergantian. Isi syair tembang umumnya bersifat nasihat. Beberapa lagu tersusun seperti pantun atau sajak berirama. Variasi nada lagu atau tembang boleh dikatakan tidak terlalu kaya. Demikian pula pola-pola gerak tari atau jogednya. Kesan monoton memang kuat dalam Tari Ndolalak seperti halnya tarian Kuda Lumping atau Jatilan. Gerak tarinya nyaris berulang-ulang. Tidak hanya untuk satu jenis tari, namun pengulangan ini juga terjadi pada jenis-jenis tari atau joged lainnya. Demikian pula nada, tempo atau ketukan dalam iringan lagu atau musiknya.
Hal seperti itu memang merupakan pilihan dari kelompok tari Ndolalak Rukun Sido Lancar dengan suatu argumen bahwa mereka ingin mempertahankan hal-hal yang bersifat tradisional. Mereka sengaja tidak melakukan perubahan secara radikal (baik pengurangan ataupun penambahan) pada iringan musiknya. Demikian juga dengan pola-pola gerak atau jogednya.
Ciri ketradisionalan kelompok tari Ndolalak ini mungkin juga bisa dilihat dari sisi lain, misalnya dari sisi begitu cairnya hubungan antara pemain dengan penonton. Hubungan emosional yang dekat menyebabkan mereka seperti tidak membedakan saat pentas dan saat keseharian. Hal ini bisa dilihat misalnya ketika ada pesinden yang kesulitan menembang, maka penari Ndolalak dapat serta merta menggantikannya tanpa harus ganti kostum atau melalui prosedur yang merumit. Demikian pula di tengah pentas tarinya para pemain bisa berinteraksi langsung dengan kerabat atau penonton misalnya dengan meminta atau menerima minuman. Pada sisi ini kelihatan bahwa tidak ada manajemen yang ketat dalam pementasan itu.
Menurut Sumirun kesenian tari Ndolalak bermula dari keberadaan Syarif Hidayatullah yang melakukan syiar Islam ke Samigaluh (Kulon Progo) dan Kaligesing (Purworejo). Kebetulan kedua wilayah ini berimpit batas. Dalam syiar itu Syarif Hidayatullah menampilkan tarian yang dikenal dengan nama Tari Badutan. Tari ini kemudian dikembangkan dengan nada atau notasi Do, Re, Mi, dan seterusnya. Pelafalan notasi ini bagi orang Jawa kala itu terasa cukup sulit. Waktu itu mereka hanya menghafal Do, La, La, Do, La, La. Penghafalan atau pelafalan ini kemudian berkembang atau berubah menjadi Ndolalak.
Lama-kelamaan Tarian Badutan yang juga disebut Ndolalak itu menyebar hingga pesisir Purworejo dan juga ke berbagai tempat di Kulon Progo. Di Purworejo tari ini kemudian lestari disebut sebagai Ndolalak sedangkan di Kulon Progo jenis tari ini lebih dikenal sebagai Tari Angguk karena pola gerak tarinya banyak menggunakan pola gerak menganggukkan kepala.
Pakaian penari Ndolalak konon juga mirip dengan pakaian serdadu Belanda. Hal ini disebabkan oleh karena pada saat tari ini berkembang, Nusantara (Jawa) sedang dijajah Belanda. Mungkin karena pakaian serdadu Belanda dianggap menarik, maka kostum tari Ndolalak ini berkiblat atau mencontoh seragam serdadu Belanda. Demikian salah versi tentang tari Ndolalak seperti yang dituturkan Sumirun kepada Tembi menjelang pementasannya di Pendapa Yudanegaran, Tembi Rumah Budaya.
foto dan teks : a. sartono

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar