-->

Jumat, 21 Desember 2012

PENDIDIKAN DAN KONFLIK SOSIAL DI SEKOLAH (Ditinjau dari Perspektif Teori Konflik)



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Konflik merupakan gejala sosial yang serba hadir dalam kehidupan sosial, sehingga konflik bersifat inheren, artinya konflik akan senantiasa ada dalam setiap ruang dan waktu, di mana saja dan
kapan saja. Di dalam dunia pendidikan sekolahpun permasalahan seperti konflik juga sering terjadi dikarenakan adanya perbedaan status sosial yang dibawa dari kebudayaannya. Oleh sebab itu, konflik dan integrasi sosial  merupakan gejala yang selalu mengisi  setiap kehidupan sosial. Hal-hal yang mendorong timbulnya konflik dan integrasi adalah adanya persamaan dan perbedaan kepentingan sosial. Di dalam setiap kehidupan soial tidak ada satu pun manusia yang memiliki kesamaan yang persis, baik dari unsur etnis, kepentingan, kemauan, kehendak, tujuan, dan sebagainya. Dari setiap konflik ada beberapa di antaranya ada yang dapat, akan tetapi ada juga yang tidak dapat diselesaikan sehingga menimbulkan beberapa aksi kekerasan. Kekerasan di dalam lembaga dapat terjadi karena di dalam hubungan sosialnya tidak selamanya berjalan mulus karena setiap individu memiliki kecenderungan kepribadian masing-masing dari latar belakangnya.[1] Kekerasan merupakan gejala tidak dapat diatasinya akar konflik sehingga menimbulkan kekerasan dari model kekerasan yang terkecil hingga peperangan.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai konflik di dalam suatu lembaga terutama pokok pembahasan kali ini yaitu pada bidang pendidikan yang memfokuskan konflik sosial di sekolah, maka perlu adanya pendukung-pendukung seperti landasan teori tentang konflik itu sendiri, maka dalam bab yang akan pemakalah sajikan yaitu konflik sosial di sekolah yang dilandasi oleh beberapa teori konflik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari konflik?
2.      Bagaimana teori konflik sosial menurut para ahli?
3.      Apa yang menyebabkan terjadinya konflik sosial?
4.      Bagaimana hubungan pendidikan dan konflik sosial di sekolah?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian konflik
2.      Untuk mengetahui teori konflik sosial menurut para ahli
3.      Untuk mengetahui penyebab terjadinya konflik sosial
4.      Untuk mengetahui hubungan pendidikan dan konflik sosial di sekolah











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teori Konflik
Sebelum mengetahui beberapa dari macam-macam teori konflik, maka alangkah baiknya terlebih dahulu diberi pengantar tentang pengertian konflik itu sendiri. “Konflik” secara etimologis berasal dari bahasa latin “con” yang berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. Dengan demikian, “konflik” dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih. William Chang mempertanyakan “benarkah konflik sosial hanya berakar pada ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah, tempat tinggal, pekerjaan, uang, dan kekuasaan?”, ternyata jawabannya tidak; dan ditanyakan oleh Cang bahwa emosi manusia sesaat pun dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Dari pemaparan di atas secara sederhana konflik dapat diartikan sebagai perselisihan atau persengketaan antara dua atau lebih kekuatan baik secara individu atau kelompok yang kedua belah pihak memiliki keinginan untuk saling menjatuhkan, menyingkirkan, mengalahkan atau menyisihkan.[2]
Teori konflik adalah salah satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari berbagai bagian  atau komponen yang mempunyai kepentingan berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.[3]
B.     Teori Konflik Menurut Para Ahli
1.      Teori Konflik Mark
Teori ini muncul sebagai pengritik dari teori struktural fungsional. Struktural fungsional lebih memandang masyarakat dari sisi keseimbangannya. Padahal masyarakat penuh dengan ketegangan dan selalu berpotensi melakukan konflik.[4]
Mark mempunyai beberapa pandangan tentang kehidupan sosial yaitu:[5]
a.       Masyarakat sebagai arena yang di dalamnya terdapat berbagai bentuk pertentangan.
b.      Paksaan (coercion) dalam wujud hukum dipandang sebagai faktor utama untuk memelihara lembaga-lembaga sosial, seperti milik pribadi (property), perbudakan (slavery), kapital yang menimbulkan ketidaksamaan hak dan kesamaan. Kesenjangan sosial terjadi dalam masyarakat karena berkerjanya lembaga paksaan tersebut yang bertumpu pada cara-cara kekerasan, penipuan, dan penindasan. Dengan demikian, titik tumpu dari konflik sosial adalah kesenjangan sosial.
c.       Bagi Mark, konflik sosial adalah pertentangan antara segmen-segmen masyarakat untuk memperebutkan asset-aset yang bernilai. Jenis dari konflik antara individu, konflik antara kelompok, dan bahkan konflik antar bangsa. Tetapi bentuk konflik yang paling menonjol menurut Marx adalah konflik yang disebabkan oleh cara produksi barang barang yang material.
d.      Karl Mark memandang masyarakat terdiri dari  dua kelas yang didasarkan pada kepemilikan sarana dan alat produksi yaitu kelas borjuis dan proletar.
e.        Kelas borjuis adalah kelompok yang memiliki sarana dan alat produksi yang dalam hal ini adalah perusahaan sebagai modal dalam usaha.
f.       Kelas proletar adalah kelas yang tidak memiliki sarana dan alat produksi sehingga dalam pemenuhan akan kebutuhan ekonominya tidak lain hanyalah menjual tenaganya.
2.      Teori Konflik Ralf Dahrendof
Ralf Dahrendof menyatakan bahwa masyarakat terbagi dalam dua kelas atas dasar pemilikan kewenangan (authority), yaitu kelas yang memiliki kewenangan (dominan) dan kelas yang tidak memiliki kewenangan (subjeksi).
            Secara garis besar pokok-pokok teori ini adalah:[6]
a.       Setiap kehidupan sosial berada dalam proses perubahan, sehingga perubahan merupakan gejala yang bersifat permanen yang mengisi setiap perubahan kehidupan sosial. Gejala perubahan kebanyakan sering diikuti oleh konflik baik secara personal maupun secara interpersonal.
b.      Setiap kehidupan sosial selalu terdapat konflik didalam dirinya sendiri, oleh sebab itu konflik merupakan gejala yang permanen yang mengisi setiap kehidupan sosial. Gejala konflik akan berjalan seiring dengan kehidupan sosial itu sendiri, sehingga lenyapnya kehidupan sosial.
c.       Setiap elemen dalam kehidupan sosial memberikan andil bagi pertumbuhan dua variabel yang saling berpengaruh. Elemen-elemen tersebut akan selalu dihadapkan pada persamaan dan perbedaan, sehingga persamaan akan mengantarkan pada akomodasi sedangkan perbedaan akan mengantarkan timbulnya konflik.
d.      Setiap kehidupan sosial, masyarakat akan terintegrasi di atas penguasaan atau dominasi sejumlah kekuataan-kekuataan lain. Dominasi kekuatan secara sepihak akan menimbulkan konsiliasi, akan tetapi mengandung simpanan benih-benih konflik yang bersifat laten, yang sewaktu-waktu akan meledak menjadi konflik terbuka.
3.      Teori Konflik Jonathan Turner
Turner  memusatkan perhatiannya pada konflik sebagai suatu proses dari pristiwa-pristiwa yang mengarah kepada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih. Dia menjelaskan Sembilan tahapa menuju konflik terbuka. Adapun Sembilan tahap itu adalah sebagai berikut;[7]
a.       Sistem sosial terdiri dari unit-unit atau kelompok-kelompok yang saling berhubungan satu sama lain.
b.      Didalam unit-unit atau kelompok-kelompok itu terdapat ketidakseimbangan pembagian kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan.
c.       Unit-unit atau kelompok-kelompok yang tidak berkuasa atau tidak mendapat bagian dari sumber-sumber penghasilan mulai  mempertanyakan legimitasi sistem tersebut.
d.       Pertanyaan atas legimitasi itu membawa mereka kepada kesadaran bahwa mereka harus mengubah sistem alokasi kekuasaan atau sumber-sumber penghasilan itu demi kepentingan mereka.
e.       Kesadaran itu menyebabkan mereka secra emosional terpancing untuk marah.
f.       Kemarahan tersebuut seringkali meledak begitu saja atas cara yang tidak terorganisir.
g.       Keadaan yang demikian menyebabkan mereka semakin tegang.
h.      Ketegangan yang semakin hebat menyebabkan mereka mencari jalan untuk mengorganisir diri guna melawan kelompok yang berkuasa.
i.        Akhirnya konflik terbuka bisa terjadi antara kelompok yang berkuasa dan tidak berkuasa. Tingkatan kekerasan dalam konflik sangat tergantung kepada kemampuan masing-masing pihak yang bertikai untuk mendefinisikan kembali kepentingan mereka secara obyektif atau kemampuan masing-masing pihak untuk menanggapi, mengatur, dan mengontrol konflik itu.
                                                                                                            
4.      Teori Konflik Lewis Coser
Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser  sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Coser mulai dengan mendefinisikan konflik sosial sebagai suatu perjuangan terhadap status yang langka, kemudian kekuasaan dan sumber-sumber pertentangan dinetralisir atau dilangsungkan, atau dieliminir saingan-saingannya. Meskipun definisi tersebut mefokuskan pada adanya pertentangan, perjuangan memperoleh sumber yang langka, yakni dimana setiap orang berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari orang lain, namun didalam menafsirkannya Coser menyatakan bahwa konflik itu bersifat fungsional (baik) dan bersifat disfungsional (buruk) bagi hubungan-hubungan dan struktur-struktur yang tidak terangkum dalam sistem sosial sebagai suatu keseluruhan. [8] Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Lewis Coser menyebutkan beberapa fungsi dari konflik yaitu;[9]
a.       Koflik dapat memperkuat solidaritas kelompok yang agak longgar. Dalam masyarakat yang terancam disintegrasi, konflik dengan masyarakat lain bisa menjadi kekuatan yang mempersatukan.
b.      Keompok dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarkannya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain.
c.        Konflik juga bisa menyebabkan anggota-anggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif.

d.      Teori Konflik C. Wright Mills
Teori konflik C. Wright Mills. Mills adalah salah satu sosiolog Amerika yang berusaha menggabunkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial.[10]
Jadi dari beberapa teori konflik di atas dapat di ambil kesimpulannya, teori konflik yaitu elemen-elemen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda sehingga mereka berjuang untuk saling mengalahkan satu sama lain guna meperoleh kepentingan yang sebesar-besarnya. Menurut karl Marx konflik merupakan salah satu kenyataan sosial yang bisa di temukan diman-mana, sedangkan menurut Ralf Dahendorf masyarakat mempunyai dua wajah yakni konflik dan konsensus, kemudian menurut Jonathan Turner konflik sebagai suatu proses dari peristiwa-peristiwa yang mengarah pada interaksi yang disertai kekerasan antara dua pihak atau lebih, lalu menurut Lewis Coser Ia memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik, dan yang terakhir menurut C. Wright Mills Ia menggabungkan perspektif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial.
C.    Penyebab Terjadinya Konflik
Pada dasarnya, secara garis besar penyebab konflik dibagi menjadi dua, yaitu;[11]
1.      Kemajemukan horizontal, yang artinya adalah struktur masyarakat yang majemuk secara kultural, seperti suku bangsa, agama, ras, dan majemuk secara sosial dalam arti perbedaan pekerjaan dan profesi, seperti petani, buruh, pedagang, pengusaha, pegawai negeri, militer, wartawan, alim ulama, sopir, cendekiawan, dan lain-lain. Kemajemukan horizontal-kultural menimbulkan konflik yang masing-masing unsur kultural tersebut mempunyai karakteristik sendiri dan masing-masing penghayat budaya tersebut ingin mempertahankan karakteristik budayanya tersebut.
2.      Kemajemukan vertital, yang artinya struktur masyarakat yang terpolarisasi bedasarkan kekayaan, pendidikan, dan kekuasaan. Hal ini dapat menimbulkan konflik sosial karena ada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekayan, pendidikan yang mapan kekuasaan dan kewenangan yang besar, sementara sebagian besar tidak atau kurang memiliki kekayaan, pendidikan rendah, dan tidak memiliki kekuasaan dan kewenangan.
Kemudian secara terperinci penyebab terjadinya konflik dapat diperjelas diantaranya:[12]
1.      Perbedaan anatar individu, diantaranya perbedaan pendapat, tujuan, keinginan, pendirian tentang objek yang dipertentangkan. Di dalam realitas sosial tidak ada satupun individu yang memiliki karakter yang sama sehingga perbedaan karakter tersebutlah yang mempengaruhi timbulnya konflik sosial.
2.      Benturan antar kepentingan baik secara ekonomi ataupun politik.
3.      Perubahan sosial, yang terjadi secara mendadak biasanya menimbulkan kerawanan konflik. Konflik dipicu oleh keadaan perubahan yang terlalu mendanak biasanya diwarnai oleh gejala dimana tatanan prilaku lama sudah tidak digunakan lagi sebagai pedoman, sedangkan tatanan perilaku yang baru masih simpang siur sehingga banyak orang kehilangan arah dan pedoman perilaku.
4.      Perbedaan kebudayaan yang mengakibatkan adanya perasaan in group dan out group yang biasanya diikuti oleh sikap etnosentrisme kelompok, yaitu sikap yang ditunjukkan kepada kelompok lain bahwa kelompoknya adalah paling baik, ideal, beradab diantara kelompok lain. Jika masing-masing kelompok yang ada didalam kehidupan sosial sama-sama memiliki sikap demikian, maka sikap ini akan memicu timbulnya konflik antar penganut kebudayaan.
Dalam bukunya Husaini Usman, menyebutkan penyebab munculnya konflik diantaranya; [13]
1.      Konflik diri sendiri dengan seseorang dapat terjadi karena perbedaan peranan, pkepribadian, dan kebutuhan.
2.      Koflik diri sendiri dengan kelompok dapat terjadi karena individu tersebut mendapat tekanan, atau individu bersangkutan telah melanggar norma-norma kelompok sehingga dimusuhi atau dikucilkan oleh kelompoknya.
3.      Konflik dapat terjadi karena adanya suantu ambisi salah satu kelompok untuk berkuasa, ada kelompok yang menindas, ada kelompok yang melanggar norma-norma budaya kelompok lainnya, ketidakadilan kelomok lainnya, dan keserakahan kelompok lainnya.
D.    Hubungan Pendidikan dan Konflik Sosial di Sekolah
Untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan antara pendidikan dan konflik sosial di sekolah perlu mengetahui unsur-unsur yang ada didalamnya dan didukung sebuah teori agar dapat  dijadikan landasan dalam proses menghubungkan antar unsur-unsur tersebut. Dalam pembahasan sebelumnya telah dipaparkan sebuah teori konflik menurut beberapa para ahli, maka dalam pembahasan selanjutnya akan di paparkan tentang pengertian pendidikan itu sendiri dan makna dari sekolah dan dari hasil pengertian masing-masing tersebut akan diperoleh suatu titik hubungan antara pendidikan dan konflik sosial di sekolah.
1.      Pengertian pendidikan menurut para ahli;
a.       Pengertian pendidikan menurut M.J. Langeveld pendidikan adalah setiap pergaulan yang terjadi adalah setiap pergaulan yang terjadi antara orang dewasa dengan anak-anak merupakan lapangan atau suatu keadaan dimana pekerjaan mendidik itu berlangsung.
b.      Pengertian pendidikan menurut Prof. Dr. John Dewey pendidikan adalah suatu proses pengalaman. Karena kehidupan adalah pertumbuhan, pendidikan berarti membantu pertumbuhan batin tanpa dibatasi oleh usia. Proses pertumbuhan ialah proses menyesuaikan pada tiap-tiap fase serta menambahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang.
c.       Pengertian pendidikan menurut Prof. H. Mahmud Yunus pendidikan adalah usaha-usaha yang sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak sehingga secara bertahap dapat mengantarkan si anak kepada tujuannya yang paling tinggi. Agar si anak hidup bahagia, serta seluruh apa yang dilakukanya menjadi bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat.
Pengertian pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia; Pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Pengertian pendidikan dalam  UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003  adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.      Pengertian sekolah
Pengertian sekolah Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberi pelajaran.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa sekolah merupakan salah satu tempat bagi para siswa untuk menuntut ilmu. Dan melihat kenyatannya hingga sekarang sekolah masih dipercaya oleh sebagian besar anggota masyarakat sebagai salah satu tempat untuk belajar, berlatih kecakapan, menyerap pendidikan atau tempat proses mendewasakan anak.
Sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sekolah dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah. Kepala Sekolah dibantu oleh wakil kepala sekolah. Jumlah wakil kepala sekolah di setiap sekolah berbeda, tergantung dengan kebutuhannya. Bangunan sekolah disusun meninggi untuk memanfaatkan tanah yang tersedia dan dapat diisi dengan fasilitas lain.
3.      Akibat konflik sosial
Ada banyak akibat konflik, akan tetapi para sosiolog sepakat menyimpulkan akibat dari konflik tersebut ke dalam lima poin berikut ini:[14]
a.       Bertambah kuatnya ras solidaritas kelompok. Solidaritas kelompok akan muncul ketika konflik tersebut melibatkan pihak-pihak lain yang memicu timbulnya antagonisme (pertentangan) di antara pihak yang bertikai.
b.      Hancurnya kesatuan kelompok. Jika konflik yang tidak berhasil diselesikan menibulkan kekerasan atau perang, maka sudah barang tentu kesatuan kelompok tersebut akan mengalami kehancuran.
c.       Adanya perubahan kepribadian individu. Artinya, di dalam suatu kelompok yang mengalami konflik, maka seseorang atau sekelompok orang yang semula memiliki kepribadian pendiam, penyabar menjadi  beringas, agresif, dan mudah marah, lebih-lebih jika konflik tersebut berujung pada kekerasan, atau perang.
d.      Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Artinya nilai-nilai dan norma sosial dengan konflik terdapat hubungan yang bersifat korelasional, artinya bisa saja terjadi konflik berdampak pada hancurnya nilai-nilai dan norma sosial akaibat dari ketidakpatuhan anggota masyarakat akibat dari konflik, atau bisa juga hancurnya nilai-nilai dan norma sosial berakibat konflik.
e.       Hilangnya harta benda (material) dan manusia. Jika konflik tidak terselesaikan hingga terjadi tindakan kekerasan atau perang, maka pasti akan berdampak pada hilangnya material dan korban manusia.
4.      Hasil-hasil konflik sosial
Dari cara menghadapi dan menelesaikannya maka hasil konflik sosial dapat di klasifikasikan sebagai berikut:[15]
a.       Konflik kalah vrsus kalah. Dalam sebuah konflik pasti terdapat pihak-pihak yang saling berselisih dan melakukan aksi saling mengalahkan, menyingkirkan, atau melenyapkan. Dalam hal ini masing-masing pihak saling kalah, jadi berakhir saling kalahnya kedua pihak.
b.      Konflik kalah versus menang. Konflik akan berakhir dalam bentuk kalah versus menang apabila salah satu pihak yang bertikai mencapai keinginannya dengan megorbankan keinginan pihak lain.
c.       Konflik menang versus menang. Konflik akan berakhir menang versus menang jika pihak-pihak yang berkaitan bersedia satu sama lain untuk mencapai kesepakatan baru yang saling menguntungkan. Gejala ini merupakan cara atau pendekatan terbaik dalam manajemen konflik.

BAB III
KESIMPULAN
Pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan itu sendiri terdapat tiga bentuk, yaitu pendidikan formal (sekolah umum), pendidikan in formal (keluarga), dan pendidikan non formal (masyarakat). Kesimpulan kali ini akan di fokuskan pada pendidikan formal yaitu sekolah. Sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Tentu dalam setiap kegiatan yang berjalan di dalam sekolahan pasti terdapat orang-orang yang saling berinteraksi antara kepala sekolah dan gura, guru dan murid, atau murid dan murid yang setiap individunya mempunyai karakter-karakter tersendiri yang dibawa dari kehudupan sosial budaya maupun faktor lain yang mempengaruhinya.
Di dalam kegiatan di sekolah terdapat suatu tatanan struktur organisasi yang di rancang untuk jenis-jenis kegiatan di sekolah itu sendiri. Misalnya terdapat kepala sekolah, wakil kepala sekolah, sekertaris bendahara, dan lain-lain. Hal ini pun juga terdapat sampai tiap-tiap kelas dari dasar sampai atas yang terdapat dalam sekolah itu sendiri, misalnya di SD ada kelas 1 (satu) sampai enam (6). Hal di dalam inilah terdapat masing-masing individu yang mempunyai kepentingan, keinginan, pendapat, dan lain-lain yang berbeda-beda paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih sehingga muncullah konflik. Konflik inilah bisa dinilai dari segi positif maupun negatif. Dari segi positif yaitu sebagai alat untuk memelihara solidaritas, mengaktifkan peran individu, dan sebagai komunikasi yang baik. Dari sisi negatifnya yaitu hancurnya kesatuan kelompok, perubahan individu yang memburuk, dan hancurnya nilai-nilai dan norma sosial.


DAFTAR PUSTAKA
Bernard Raho. 2007. Teori sosiologi modern. Kota: Prestasi Pustaka.
Damsar. 2011. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana.
Husaini Usman. 2006. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Irving M. Zeitlin. 1998. Memahami Kembali Sosiologi. Yogyakarta: UGM Pres.
Muhammad Rifa’i. 2011. Sosiologi Pendidikan.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Zainudin Maliki. 2008. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: UGM Press.





[1] Muhammad Rifa’i, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011). Hal. 189.
[2] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 348.
[3] Damsar, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 55
[4] Zainudin Maliki, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: UGM Press, 2008), hal.142-143.
[5] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi,.hal. 365.
[6] Ibid., hal.369-370.
[7] Ibid., hal.371.
[8] Irving M. Zeitlin, Memahami Kembali Sosiologi, (Yogyakarta: UGM Press, 1998), hal. 156.
[9] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi,.hal. 372-373.
[10] Bernard Raho, Teori sosiologi modern,( Kota: Prestasi Pustaka, 2007), hal 90.
[11] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi,.hal.360-361.
[12] Ibid., hal. 361-362.
[13] Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hal. 389.
[14] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi,.hal. 377.
[15] Ibid., hal. 378-379.

Reaksi:

1 komentar:

Poskan Komentar