-->

Selasa, 25 Desember 2012

POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN




BAB II
PEMBAHASAN
A.    POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR’AN
Dalam memahami pokok-pokok kandungan alqur’an terjadi perbedaan pendapat menurut Mahmud Syaltut membagi menjadi dua bagian;
a). Akidah yaitu ajaran-ajaran yang mengatur sistem keyakinan seorang muslim.
b). Syariah adalah doktrin yang mengatur berbagai perbuatan manusia, baik dalam konteks hubungan ketuhanan, kekerabatan, maupun sosial.
Menurut penulis buku alqur’an yang diterbitkan pokja UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pembagian tersebut masih terlalu global masih ada dimensi-dimensi yang lain seperti akhlak,sejarah dsb.
A.    Akidah (tauhid)
Akidah merupakan inti kandungan alqur’an yang berasal dari kata aqada -ya’qidu-aqdan-aqidatan’ yang berarti simpul, ikatan, perjanjian dan kokoh. Setelah kata tersebut menjadi aqidah berarti keyakinan.
Secara terminologis menurut Hasan al Banna akidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenangan jiwa menjadi keyakinan yang tidak tercampur dengan keragu-raguan sedikitpun.
Sedangkan menurut Abu Bakar Jabir al Jai’iri akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (baca:bersifat aksiomatik) oleh manusia,berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran tersebut dipatrikan oleh manusia dalam hati serta diyakini kebenaran dan kaberadaannya secara pasti, segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran tersebut ditolak.
Adapun ruang lingkup pembahasan akidah meliputi;
a.       Ilahiyyat adalah sesuatu yang berhubungan dengan Allah Swt seperti wujud Allah, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-Nya. Karena Allah tidak tampak (ghaib) oleh manusia, maka untuk sekedar mandapat gambaran atau pengertian di berikanlah sifat-sifat Allah Swt dalam al qur’an. Meskipun tetap harus dicatat bahwa segala sesuatu yang terbayang di benak kita,sesungguhnya bukanlah Allah.Sebab allah tak dapat dibayangkan. Sesuai dengan firman Allah QS.al-Syuro ayat 11 “ tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya”
Diantara sifat Allah yang disebut dalam al qur’an adalah Rabb yang berarti mendidik, memelihara, yang memiliki. Kata tersebut disebut dalam al qur’an sebanyak 967 kali. Dan masih banyak lagi sifat-sifat Allah sebagaimana terumuskan dalam asma’ul husna yang berjumlah 99 yang kesemuannya menggambarkan kesempurnaan sifat-sifat Allah.
b.      Nubuwwat adalah hal-hal yang berkaitan dengan  nabi dan rasul, termasuk pembahasan tentang kitab-kitab allah dan sebagainya. Nabi yang disebut secara tegas dalam al qur’an berjumlah dua puluh lima. Sedangkan kitab Allah ada empat: Zabur,Taurat,Injil,Al qur’an. Al qur,an merupakan kitab Allah yang akan menjadi petunjuk bagi umat manusia dan kemurniannya akan tetap terjaga sampai hari kiamat nanti.Ada shuhuf-shuhuf yang diturunkan kepada Nabi Nuh, Nabi Ibrahimdan juga Nabi Isa.
c.       Ruhaniyyat yaitu pembahasan tentang alam ghaib seperti tentang malaikat, jin, iblis dsb.
d.      Sam’iyyat yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang bisa di ketahui dengan as-sama’(pendengaran berdasarkan dalil naqli yaitu al qur’an dan hadis)  seperti pembahasan tentang surga neraka dsb
Untuk  mengajarkan tauhid Allah mengutus nabi dan rasul untuk menyampaikan ajaran tauhid kepada umat manusia mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad sesuai dengan firman-Nya QS an-nahl:36 dan al-ahzab:40.[1]
Ayat al qur’an yang membicarakan tauhid sebanyak 96 ayat.[2]
B.     SYARIAH
Berasal dari kata syir’ah atau syari’ah yang berarti jalan yang jelas. Dalam arti luas berarti seluruh ajaran islam yang berupa norma-norma agama agar ditaati baik secara individu maupun kolektif. Syariah dalam arti luas identik dengan ad-din yang berlaku umat-umat nabi terdahulu. Allah berfirman:
Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu:tegakkanlah agaama dan janganlah kamu berpecah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang di kehndaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) –Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS al-syura:13)
Dalam arti sempit syariah atau orang menyebut dengan istilah fiqh yakni hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum syarak mengatur tingkah laku manusia meliputi ibadah, muamalah, uqbah
Ibadah berfungsi sebagai manifestasi manusia bersyukur kepada Allah dan berfungsi sebagai realisasi dan konsekuensi manusia atas kepercayaan terhadap tuhan YME. Ayat yang membicarakan tentang syariah sebanyak 35 ayat.
Akkhlak dalam percakapan sehari-hari istilah akhlak (Arab: akhlaq) sering disamakan begitu saja dengan istilah lain seperti perangai, karakter, unggah-ungguh (Jawa), sopan santun, etika dan moral. Secara etimologi, kata akhlak berasal dari bahasa arab khulq berarti tabiah dan watak. Secara terminologi Ibnu Miskawaih akhlaq suatu kondisi jiwa yang menyebabkan ia bertindak tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan yang mendalam. Hal ini disebabkan karena seseorang telah membiasakan perilaku tersebut.
Menurut Al Ghazali akhlak adalah sebuah kondisi mental yang tertanam kuat dalam jiwa, yang dirinya lalu muncul perbuatan (perilaku) dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dari dua definisi tersebut, jelas bahwa akhlak sebenarnya berasal dari kondisi mental yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, yang melahirkan perilaku baik. Disebabkan ia telah membiasakannya, sehingga ketika akan melakukan perbuatan tersebut ia tidak perlu lagi memikirkannya, seolah perbuatan tersebut telah menjadi geraak reflek jika perbuatan yang dilakukkan itu baik, maka disebut dengan istilah akhlakul karimah (akhlak yang mulia). Sebaliknya bila perbuatan yang muncul dari seseorang itu buruk atau jahat, maka disebut dengan akhlakul madzmumah (akhlak yang tercela). Pengertian akhlak dan moral sebenarnya secara substansial tidak terlalu ada perbedaan. Sebab keduanya mengacu pada masalah perbuatan baik dan buruk. Oleh karenanya, sebagian ahli menyebut bahwa akhlak adalah konsep moral dalam islam. Jadi, objek formal dalam kajian akhlak adalah tentang perilaku baik dan buruk.[3] Ajaran-ajaran moral tersebut dalam islam banyak yang bersumber dari Al-qur’an sebanyak 16 ayat dan hadis nabi[4]. Rasulullah S.A.W. telah memberikan petuah-petuah dan keteladanan sekaligus kepada umatnya untuk berahlak mulia. Sebab itulah salah satu misi utamanya, berdasarkan hadis shahih Nabi Muhammad diutus kedunia tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak. Diriwayatkan dari abu Hurairah, Nabi S.A.W. bersabda: “ sesungguhnya aku diutus kedunia untuk menyempurnakan akhlak manusia” (H.R. Bukhari, Abu Dawud dan Hakim). Sebagian orang memang menyamakan begitu saja antara istilah akhlak dan etika. Padahal berbeda jika akhlak sebagai konsep moral dalam islam adalah ajaran-ajaran bagaimana seseorang bertindak dalam kehidupan ini, agar menjadi orang baik.
Etika adalah sebuah ilmu bukan sebuah ajaran. Etika berbicara tentang mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu atau bagaimana kita dapat mengambil sikap yang bertangguangjawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral atau akhlak. Dengan kata lain, etika adalah filsafat moralnya atau filsafat akhlak sedangkan akhlak adalah ajaran-ajaran moralnya, tentang hal yang baik dan yang buruk. Pendek kata, etika lebih bersifat teoritis filosofis sedangkan akhlak lebih bersifat prktis aplikatif.
Proses-proses pembentukan akhlak antara lain:
a)      Melalui keteladanan (qudwah, uswah)
b)      Melalui taklim (pengajaran)
c)      Pembiasaan (ta’wid)
d)     Pemberian motivasi (targhib)
e)      Pemberian ancaman dan sanksi hukum (tarhib)
Ajaran akhlak pada prinsipnya merupakan ajaran yang memberikan tuntunan kepada kita tentang bagaimana hidup kita ini menjadi lebih baik dan bermakna.
Manfaat mengamalkan akhlak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain:
a)      Melahirkan keluhuran moral berupa kesalehan ritual kepada Allah dan kesalehan sosial terhadap sesama manusia.
b)      Menjadikan hidup ini lebih baik.
c)      Muraqabah dan makrifatullah dalam pengertian bahwa seseorang akan merasa bahwa seluruh amal perbuatannya berada dalam pengawasan Allah.
d)     Mahabbah fillah (cinta kepada Allah).  Dengan dasar cinta, maka semangat ibadah akan menggelora, semangat berkorban untuk orang lainpun tak pernah padam.
C.     Sejarah (kisah-kisah Al-Qur’an)
Kisah-kisah Al-qur’an sering disebut dengan qashasul Qur’an. Al-Qur’an lebih banyak berbicara tentang kisah ketimbang ayat-ayat yang berbicara tentang hukum karena memberikan isyarat bahwa Al-Qur’an sangat perhatian terhadap masalah kisah yang mengandung banyak ibrah (pelajaran). Allah S.W.T. berfirman: “ sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman. (Q.S. Yusuf: 111).
Manna al-Khalil al-Qathan mendifinisikan kisah Al-Qur’an adalah pemberitaaan Al-Qur’an tentang hal ikhwal umat-umat dulu dan para nabi, serta peristiwa-peristiwa yang terjadi secara empiris. Dan sesungguhnya Al-Qur’an banyak memuat peristiwa-peristiwa masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu, negara, perkampungan dan mengisahkan setiap kaum dengan cara shuratan nathiqah artinya seolah-olah pembaca kisah tersebut menjadi pelaku sendiri yang menyaksikan peristiwa itu.
Adapun tujuan kisah Al-Qur’an untuk memberikan pengertian tentang sesuatu yang terjadi dengan sebenarnya dan agar dijadikan ibrah untuk memperkokoh keimanan dan membimbing kearah perbuatan yang lebih baik dan benar.
Kisah-kisah dalam Al-Qur’an dikelompokan menjadi tiga:
a)      Kisah para nabi, yang memuat dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat sikap para penentang dsb.
b)      Kisah-kisah yang berkaitan dengan kejadian-kejadian umat terdahulu dan tentang orang-orang yang tidak dapat dipastikan kennabiannya, seperti kisah Thalut, Jalut, Ashabul Kahfi, Zulkarnain dsb.
c)      Kisah-kisah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah seperti perang badar, Uhud dll.
 Adapun unsur-unsur kisah dalam al-Qur’an:
a)      Pelaku (al-syaksy). Dalam al-Qur’an para aktor bukan hanya manusia tetapi juga malaikat, jin, hewan seperti, semut dan burung hud-hud.
b)      Peristiwa (al- haditsah). Unsur peristiwa ini merupakan unsur pokok dalam suatu kisah, sebab tidak mungkin, suatu kisah tanpa ada peristiwanya. Para ahli membaginya menjadi tiga yaitu: a) peristiwa yang merupakan akibat dari suatu pendustaan dan campur tangan qadha dan qadar Allah dalam suatu kisah seperti kisah kaum dulu yang mendustakan rasul, mereka meminta tanda bukti kebenaran lalu datanglah ayat-ayat Allah, namun mereka tetap mendustakannya maka turunlah azab. b)  peristiwa yang dianggap luar biasa atau yang disebut mukjizat sebagai bukti kebenaran para rasul-Nya. c) peristiwa biasa yang dilakukan oleh orana-orang yang dikenal sebagai tokoh yang baik dan buruk, baik seorang rasul atau manusia biasa.
c)      Percakapan(hiwar). Biasnya percakapan ini terdapat pada kisah yang banyak pelakunya, seperti kisah  Nabi Yusuf, kisah Musa, kisah Adam dsb. Isi percakapan dalam al-Qur’an umumnya soal agama, tauhid,kemanusiaan para rasul dsb.Dalam hal ini al-Qur’an menempuh model percakapan langsung. Jadi al-Qur’an menceritakan pelaku dalam bentuk aslinya.
Tujuan dan fungsi kisah-kisah dalam al-Qur’an:
a)      Untuk menunjukkan bukti kerasulan Muhammad saw.sebab beliau tidak pernah belejar umat terdahulu, tetapi beliau tahu tidak lain berasal dari al-Qur’an.
b)      Untuk dijadikan uswah hasanah dengan mencontoh akhlak para nabi dan orang-orang saleh yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
c)      Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad dan umatnya dalam beragama islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan. (QS 11:120)
d)     Mengungkapkan kebohongan ahli kitab yang telah menyembunyikan isi kitab mereka yang masih murni.
e)      Untuk menarik perhatian para pendengar dan menggugah kesadaran diri mereka melalui penutura kisah.
f)       Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama allah, yaitu inti ajaran para rasul Allah adalah tauhid.[5]
Di dalam ayat al- Qur’an yaang membicarakan kisah- kisah sebanyak 132 ayat.[6]
D.    Iptek
Al-Qur’an juga mengandung informasi tentang masalah ilmu pengetahuan, paling tidak ada isyarat ilmu pengetahuan, ada sekian kebenaran ilmiah yang dipaparkan oleh Al-Qur’an , tetapi tujuan pemaparan ayat-ayat tersebut untuk menunjukkan kebesaran Tuhan dan keesaan-Nya, serta mendorong manusia untuk mengadakan observasi dan penelitian demi lebih menguatkan iman dan kepercayaan kepadaNya.
Mengenai hal ini, Mahmud Syaltut mengatakan dalam tafsirnya: “Sesungguhnya Tuhan tidak menurunkan di al-Qur’an untuk menjadi satu kitab yang menerangkan kepada manusia mengenai teori-teori ilmiah, problem-problem seni serta aneka warna pengetahuan.
Sebagai contoh di dalam asbabun nuzul di terangkan pada suatu hari datang seorang kepada Rasul yang bertanya:” Mengapa bulan kelihatan kecil bagaikan benang, kemudian membesar sampai menjadi bulan purnama? Lalu Rasulullah mengembalikan jawaban pertanyaan itu kepada Allah yang berfirman: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji, dan bukanlah kebajikan itu ialah kebajikanmemasuki rumah-rumahdari belakangnya. Akan tetapi kebajikan ialah kebajikan itu ialah kebajikan bagi orang-orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah- rumah itu dari pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”(QS. Al-baqarah:189)
Jawaban al-Qur’an bukanlah jawaban ilmiah tetapi sesuai dengan tujuan pokoknya. Tiada pertentangan antara al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.Memahami hubungan al-Qur’an
Lebih lanjut, berkaitan dengan adanya informasi atau isyarat-isyarat tentang iptek dalam al-Qur’an, perkembangan corak penafsiran al-Qur’an rupanya juga dipengaruhi oleh perkembangan dunia ilmu pengetahuan. Ini terbukti  dengan adanya corak penafsiran ilmiah (scientific exegesis) yang dilandasi oleh asumsi bahwa al-Qur’an mengandung berbagai informasi baik tentang agama maupun ilmu pengetahuan. Al-Qur’an merupakan kitab yang tak untuk orang-orang pada abad ke-7M tetapi untuk masyarakat modern bahkan untuk masyarakat yang akan datang, ini menunjukkan adanya perkembangan ilmu pengetahuan.
Hal ini kemudian mendorong sarjana muslim (baca mufassir) untuk menggeluti ilmu pengetahuan, juga melakukan kajian ayat-ayat kauniyah. Mereka yang berbasis ilmu-ilmu kealaman (al-ulum al thabaiyyat) dan juga sains  modern rupanya ingin membuktikan kemukjizatan al-Qur’an ditinjau dari sains modern.(baca: al i’jaz al-‘ilmi).
            Menurut sejarah penafsiran al-Qur’an bercorak ilmiah dimulai sejak dinasti abbasiyah, ketika dunia islam berada di masa keemasan dimana islam memimpin peradaban dunia. Salah satu faktor nya karena ingin berinteraksi dengan dunia luar sebagai akibat dari gerakan penterjamahan dunia luar.
            Menurut George Sarton sebagaimana dikutip AJ Arberry pernah menulis bahwa sejak paruh abad ke-8 hingga akhir abad ke-11 M. Bahasa arab merupakan bahasa ilmiah, satu-satunya bahasa ilmiah, satu-satunya bahasa progresif yang dimiliki umat manusia, banyak tokoh-tokoh islam yang tidak ada tandingannya di barat seperti: Al-Kindi,Al-Razi dll. Abad kejayaan sains dalam dunia islam terjadi sekitar tahun 750-1100 M.
            Ketika itu, dunia islam telah memberikan kontribusi yang luar biasa kepada sains termasuk matematika dan kedokteran. Kita masih ingat ketika Nil Amstrong berhasi naik ke bulan sebagian sarjana mslim dengan penuh semangat mengutip ayat 33 surat al-Rahman yang artinya “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”
            Di dalam al-Qur’an banyak ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya seperti: antropologi,biologi,astronomi,kedokteran,matematika dll.
Filsafat
            Menurut Bertrand Russel, fisafat merupakan jenis pengetahuan yang memberikan kesatuan dan sistem ilmu pengetahuan melalui pengujian kritis terhadap dasar-dasar keputusan, prasangka-prasangka dan kepercayaan. Hal ini, karena pemikiran filsafat karena bersifat radikal (mengakar) yang mencoba memberikan jawaban menyeluruh dari A sampai Z,mencari yang sedalam-dalamnya sehingga dimensi fisik dan teknik.
     Sebagaimana ditulis Muhammad Yusuf Musa, karakter dasar al-Qur’an itu adalah mengajak manusia berfilsafat. Seandainya alQur’an itu hanya berbicara tentang tasyri’ dan akhlak, niscaya ia tidak  akan melahirkan pergolakan pemikiran filosofis. Bukti bahwa al-Qur’an mengajak berfilsafat  antara lain mengajak berdebat dengan masyarakat Arab yang ketika itu sudah memliki tradisi,pemikiran dan budaya. Dan al-Qur’an menunjukkan kesalahan-kesalahan apa yang selama ini mereka yakini, terutama tentang konsep ketuhanan mereka.
     Nabi Muhammad adalah seorang filsof karena sangat cerdas dan telah mampu berpikir radikal (mendasar) karena filsafat mengajarkan berpikir mendasar. Nabi Muhammad menyembah berhala bukan menyembah Allah ini bukti nyata bahwa beliau telah berpikir filosofis.
     Setelah nabi melakukan perenungan dan mulai berdakwah beliau ternyata berhasil merubah sistem pemikiran ketuhanan masyarakat yang tadinya syirik menjadi menyembah Allah berhenti karna nabi seorang yang cerdas.Namun sayang, sebagian orang menganggap bahwa apa saja yang di ucapkan nabi adalah wahyu Tuhan dengan argumen yang artinya:” Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, (QS.an-Najm 3-5).
Ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang filsafat yang artinya:” Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”tentu mereka akan menjawab:”Allah”. Katakanlah:”Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Luqman:25).           QS Az-Zumar:33 , QS Taghabun:3, QS at- Thalaq:12 juga berbicara tentang filsafat. [7]












BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Aqidah adalah inti dari kandungan al-Qur’an karena berbicara tentang keesaan Tuhan yang mencakup Illahiyyat,Nubuwwat,Ruhaniyyat,Sam,iyyat.
Syari’ah yaitu seluruh ajaran Islam yang berupa norma-norama agama agar ditaati, berkaitan dengan tingkah laku individu maupun kolektif.
Akhlak menurut al-Ghazali adalah sebuah kondisi mental yang tertanam kuat dalam jiwa seseorang yang darinya lalu muncul perbuatan dengan mudah, tanpa memerlukan pemikiran.
Sejarah dalam al-Qur’an agar menjadi ibrah bagi umat sekarang dari kisah-kisah umat terdahulu.
Dalam al-Qur’an selain mangandung ilmu agama juga mengandung ilmu pengetahuan  dan juga mengajarkan filsafat karena mengajak untuk berfilsafat. Seandainya al-Qur’an hanya berbicara tentang tasyri’ dan akhlak, niscaya tidak akan melahirkan pemikiran filosofis.









DAFTAR PUSTAKA
Munawir, Fajrul,Drs,M.Si,dkk.Al-Qur’an.Yogyakarta:pogja UIN Sunan Kalijaga.2005.
Thaltas.T.H. Fokus Isi dan Makna Al-Qur’an.Jakarta:Galura Pase.2008.
Zuhdi,Masjfuk,Prof,Drs,H.Pengantar Ulumul Qur’an.Surabaya:Karya Abditama.1997.
  
    

 BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
 Al-Qur’anmerupakan mukjizat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad agar disampaikan kepada umat manusia yang  mengandung beberapa hal separti:aqidah,syariah,akhlak,sejarah,iptek dan filsafat.kandungan al-Qur’ an tersebut agar dipahami dan dilakukan oleh manusia. 
B.RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja yang terkandung dalam al-Qur’an?
2. Apa paradigma filsafat dan IPTEK dalam pandangan al-Qur’an?
3. apa saja manfaat kisah-kisah al-Qur’an?
C.TUJUAN DAN MANFAAT
1. Agar mengerti pokok-pokok kandungan al-Qur’an
2. Agar mengetahui paradigma filsafat dan IPTEK menururt pandangan al-Qur’an
3. Agar mengetahui manfaat kisah-kisah al-Qur’an


[1] Drs. Fajrul Munawir,M.Si,dkk.Al-Qur’an.(Yogyakarta:pogja,2005),hlm.96-98.
[2] T.H. Thaltas.Fokus Isi dan Makna AI-Qur’an.(Jakarta:Galura Pase,2008),hlm.xii
[3] Drs.fajrul munawir,dkk.Al-Qur’an.(Yogyakarta:pogja.2005).hlm.98-99
[4] T.H. Thaltas.fokus Isi dan Makna Al-Qur’an.(Jakarta:2008).hlm.xii
[5] Drs.Fajrul Munawir.Al-Qur,an.(Yogyakarta.pogja:2005).hlm.105-110
[6] T.H.Thaltas.Fokus Isi dan Makna Al-Qur’an.(Jakarta.Galura Pase).hlm.xii
[7] Drs. Fajrul Munawir,M.Si.,dkk.(Yogyakarta.pogja:2005).hlm.110-122

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar