-->

Kamis, 10 Januari 2013

Q.S. Ali ‘Imran Ayat 110


Berperilaku Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar Sebagai Tauladan yang Baik Bagi Manusia
Q.S. Ali Imran Ayat 110
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas matakuliah Al-Qur’an dan Pembelajarannya
Dosen Pengampu: Drs. Mujahid, M. Ag

Disusunoleh:
MUKHAMAT MUNSHORIF         (10411062)
KELAS PAI-2(B)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALI JAGA
YOGYAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN

            Manusia adalah makhluk Allah yang menjadi khalifah di bumi, yaitu makhluk yang oleh Allah untuk memelihara bumi dengan segala potensi yang dimilikinya agar terbentuknya situasi dan kondisi lingkungan yang diinginkan. Oleh karena itu masing-masing manusia agar bisa menjadi yang terbaik dalam segala perbuatan yaitu melakukan perbuatan yang baik dan meningalkan perbuatan yang buruk atau sering disebut amar ma’ruf dan nahi mungkar, hal tersebut dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan bermasyarakat dengan kata lain orang yang mempunyai sikap tersebut adalah dapat dikatakan sebagai “seorang pemimpin”. Dalam hal ini seorang pemimpin yang baik memiliki dua sifat yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa Nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya.
Allah telah memberikan keistimewaan pada umat Islam bila umat Islam melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar dan Allah juga memuji umat Islam bahwa umat Islam adalah umat yang terbaik yang dilahirkan di Dunia. lalu Allah memperingatkan mereka jangan sampai seperti orang-orang ahlul kitab yang selau menantang dan berbuat maksiat. Sekaligus, Allah mengancam mereka bila berbuat begitu dengan siksaan yang pedih.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Bunyidan Terjemahan Ayat
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ                                                                       
Artinya:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. 3:110)[1]

B.     Tafsir Mufradat
a.       كُنْتُمْ  :
Mempunyai arti “Kalian dijadikan dan diciptakan.”[2] bias mengandung arti itu ada pada kamu semua, bentuknya adalah jamak mudzakar salim. Kedudukan “kalian” disini adalah menunjukkan kepada umat Allah yang mempunyai akhlak baik.
b.      خَيْرَ أُمَّةٍ          خَيْرًا       :Yang artinya “lebih baik”
Mempunyai arti lebih baik-baiknya umat. Di sini oleh Allah yang dimaksud sebagai umat yang baik adalah umat yang bisa menjalankan perbuatan baik(ma’ruf) dan menjahui perbuatan yang mungkar dan beriman kepada Allah. Umat disini tidak terbatas hanya kepada umat Nabi Muhammad saw tetapi seluruh umat manusia.
c.       أُخْرِجَتْ Di dalam kitab tafsir Qur’an Al-Maraghi “Ukhrijat” mempunyai arti  “umat  yang  ditampakkan,  sehingga  membeda  dan diketahui”. [3] Berasal

dari bentukan kata;
:  خَرَجَ Berbentuk Fi’il madhi yang mempunyai arti telah keluar,
: يَْخرُجَ Berbentuk fi’il mudhori’ yang mempunyai arti keluar,
أُخُْرْج : Berbentuk fi’il Amr yang mempunyai arti keluarlah.
d.      لِلنَّاسِ   :    pada manusia, di sini manusia adalah yang paling baik yaitu sebaik-baiknya umat.
e.       تَأْمُرُونَ    .yang menyuruh pada kamu semua : kepada perbuatan yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.  
f.       بِالْمَعْرُوفِ  : Dengan kebaikan.
    مَعْرُوف : baik, (Isim mufrod). Baik yaitu perbuatan dan akhlaknya.
g.        :      وَتَنْهَوْنَdan mencegah kamu semua.
تَنْهَوْنَ      :  mencegah (fi’il mudhori’)
h.       عَنِ الْمُنْكَرِ   : dari perbuatan kemungkaran.
       مُنْكَر: Buruk (Isim mufrod). Buruk yaitu perbuatan atau akhlaknya.
i.        وَتُؤْمِنُونَ   : dan hendaklah kamu semua beriman. Berbentuk (fi’il mudhori’).
j.        بِاللَّهِ       : kepada Allah.
k.      وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ : dan sekiranya para ahli kitab, ahli kitab disini                  sebagai pelaku (fa’il). Ahli kitab disini dimaknai orang-orang non muslim,

Seperti yahudi dan nasrani. Yang  perilaku  mereka  selalu menentang dan

berbuat maksiat. Sekaligus Allah  mengancam  mereka bila berbuat begitu

dengan siksaan yang pedih.

l.        لَكَانَ       : pasti ada, (kemasukan ahlul kitab) bentuknya fi’il madhi.                    كَنَ          يَكُونُ          كُن
m.    خَيْرًا       : itu lebih baik.
n.      لَهُمْ        : kepada mereka (ahli kitab).
o.      مِنْهُمُ       : itu sebagian dari mereka (ahli kitab).
p.      الْمُؤْمِنُونَ   : orang yang beriman.
q.      وَأَكْثَرُهُمُ   : dan kebanyakan mereka.
r.        الْفَاسِقُونَ   : adalah orang-orang fasik.




C.    Uraian isi Kandungan Ayat
Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi. Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan sebagaimana tersebut dalam firman Allah: Yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul Nya. kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar". (Q.S Al Hujurat: 15)
            Jadi ada dua syarat untuk menjadi sebaik-baik umat di dunia, sebagaimana diterangkan dalam ayat ini, pertama iman yang kuat dan; kedua menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Maka setiap umat yang memiliki kedua sifat ini pasti umat itu jaya dan mulia dan apabila kedua hal itu diabaikan dan tidak diperdulikan lagi, maka tidak dapat disesalkan bila umat itu jatuh ke lembah kemelaratan. Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Ahli Kitab itu jika beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka. Tetapi sedikit sekali di antara mereka yang beriman seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik tidak mau beriman. mereka percaya kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagiannya yang lain, atau mereka percaya kepada sebagian Rasul seperti Musa dan Isa dan kafir kepada Nabi Muhammad saw.
Allah memberitahukan kepada umat Nabi Muhammad Saw. Bahwa mereka adalah sebaik-baik umat. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ                                                                  
Hadis Nabi yang terdapat dalam kitab tafsir ibnu kasir bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Kalian adalah umat yang ketujuh puluh, kalianlah yang paling baik dan paling mulia menurut Allah Swt.” Hadis ini cukup terkenal (masyhur), Imam Turmuzi menilainya berpredikat hasan. Telah diriwayatkan hadis yang semisal melalui Mu'az ibnu Jabal dan Abu Sa'id. Sesungguhnya umat ini menduduki peringkat teratas dalam semua kebajikan tiada lain berkat Nabi mereka, yaitu Nabi Muhammad Saw. Karena sesungguhnya beliau adalah makhluk Allah yang paling mulia dan rasul yang paling dimuliakan di sisi Allah. Allah telah mengutusnya dengan membawa syariat yang sempurna lagi agung yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi dan seorang rasul pun sebelumnya.[4]

Melakukan suatu amal perbuatan sesuai dengan tuntunannya dan jalan yang telah dirintisnya sama kedudukannya dengan banyak amal kebaikan yang dilakukan oleh selain mereka dari kalangan umat terdahulu. Umat sekarang adalah yang paling baik di alam wujud pada masa sekarang. Karena orang yang melakukan mar ma’ruf dan nahi mungkar, dan yang beriman secara benar. Sifat ini yang terdapat pada masa permulaan. Mereka adalah Nabi Muhammad saw. Dan para sahabat yang bersama beliau sewaktu Al-Qur’an di turunkan, yang sebelumnya mereka saling bermusuhan. Bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah penyebab keutamaan. Dalam hal ini "Amr ma'ruf" mencakup segala macam kebajikan, adat istiadat, dan budaya yang sejalan dengan nilai-nilai agama, sedang nahi 'an al-munkar adalah lawan dari amr ma'ruf.[5]
Sifat-sifat ini, meski umat lainnya mempunyai sifat yang serupa, tetapi segi-seginya tidak seperti yang dimiliki umat ini. Amar ma’ruf dalam umat islam segi-seginya ditetapkan dalam perintah yang  paling kuat, yaitu berperang bila situasinya menghendaki demikian, bahkan juga bias dilakukan dengan hati dan lisan. tetapi yang paling kuat adalah dengan jalan perang, karena dalam hal ini berarti mempertaruhkan nyawa.[6]

Perkara ma’ruf yang paling agung adalah agama yang haq, iman, tauhid, dan kenabian dan kemungkaran yang paling di ingkari adalah kafir terhadap Allah. Dalam kewajiban berjihad adalah menyampaikan manfaat yang paling besar dan membebaskan keburukan yang paling besar. Adapun yang berjihad seperti Bani Israil- kebanyakan jihad mereka untuk mengusir musuh dari negerinya. Sebagaimana orang yang jahat dan dzalim berperang bukan karena menyeru kepada petunjuk dan kebaikan, tidak pula untuk amar ma’ruf nahi munkar.
Disini, amar ma’ruf dan nahi mungkar penyebutannya didahulukan disbanding iman kepada Allah. Padahal, iman itu selalu berada di depan dari berbagai jenis ketaatan. Hal ini lantaran amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan pintu keimanan dan yang memeliharanya. Jadi didahulukan kedua hal tersebut dalam penuturan adalah sesuai dengan kebiasaan yang terjadi di kalangan umat manusia, yaitu menjadikan pintu berada di depan segala sesuatu.[7]
وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ                                            
Seandainya para ahli kitab benar-benar beriman yang dapat menjadi sumber dari keutamaan dan akhlak yang baik seperti orang mukminin, namun mereka tidak membuahkan keimanan yang benar di cintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga mereka adalah orang-orang yang fasik yang keluar dari hakekat ajaran agamanya an hal ini yang menjadikan suatu kebiasaan yang buruk yang mengambarkan kebiasaan lahiriahnya saja.


D.    Kesimpulan
Dari pemaparan bab sebelumnya maka dapat disimpulkan tentang surat Ali-Imran  ayat 110 dari ayat tersebut bahwa perbuatan amar ma’rufa dan nahi mungkar adalah suatu perilaku yang paling utama dan penting dalam semua kehidupan umat manusia secar umum karena hal ini menjadikan pintu berada di depan segala sesuatu. Mengingat bahwa kebaikan merupakan tujuan bagi semua manusia karena dengan kebaikan itu berujung kepada kebahagian, sedangkan kemungkaran merupakan dasar dari penderitaan dan kesengsaraan, maka Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur telah memberikan akal pikiran dan potensi bagi manusia untuk memilih satu diantara keduanya dengan menggunakan hukum syari'at dalam agamanya.
Umat muslim pada zaman ini mendapatkan perintah untuk berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. agar terciptanya kebaikan dan dijauhinya kemunkaran tersebut, lahirlah perintah untuk melakukan anjuran untuk berbuat baik dan meninggalkan kemunkaran yang dikenal sebagai amar ma'ruf nahi munkar. Dengan adanya peran amar ma’ruf nahi munkar yang dialamatkan kepada setiap individu maupun kepada masyarakat secara luas, maka keburukan, kerusakan dan kemudharatan tersebut dapat ditiadakan atau diminimalisir serta sebaliknya kebaikan dan kemaslahatan akan dapat diciptakan. Sehingga peran amar ma’ruf nahi munkar ini sangatlah besar dirasakan manfaatnya bagi seluruh hamba Allah Yang Maha Pemurah.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Maraghi, Ahmad Mushthafa. 1986. Tafsit Al-Maraghi Juz 4. Semarang: CV. Toha Putra.
Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi,  Al-Iman Abdul Fida Isma’il,  2000. Tafsir Ibnu Kasir. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Quraish Shihab, M. Dr., M.A. 1996. Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Soenarjo S.H,R. H. A.,  Prof. 1988. Qur’an dan Terjemahan. Jakarta: PT. Serajaya Santra.



[1] Prof. R. H. A. Soenarjo S.H,  Qur’an dan Terjemahan, (Jakarta: PT. Serajaya Santra, 1988), hal. 94
[2] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsit Al-Maraghi Juz 4, (Semarang: CV. Toha Putra,1986), hal. 45
[3] Ibid., Hal. 45
[4] Al-Iman Abdul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000), hal.65
[5] Dr. M. Quraish Shihab, M.A, Wawasan Al-Quran Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996), hal. 422
[6] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsit Al-Maraghi Juz 4, (Semarang: CV. Toha Putra,1986), hal. 48
[7] Ibid., Hal. 49

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar